Gigi Bolong (Part 2)
Wednesday, September 13th, 2006Gigi Bolong (Part 2)
Urusan gigi bolongku rupanya
harus diberesin ke dokter. Selama hampir seminggu aku mandek ngga bisa kerja, kepalaku
dihajar penyakit pusiiiing. Otak mogok, ngga bisa diajak mikir. Damn!!
Hari senin (4/9) atas
rekomendasi temanku, seorang ibu hamil yang cantik, aku pergi ke klinik Mampang
Sari. Tempatnya ngga begitu jauh dari kantorku yang seatap dengan Walhi (Wahana
Lingkungan Hidup
Indonesia
)
di Tegal Parang, naik ojek ongkosnya Rp 3000. Benar saja apa yang dikatakan
temanku, tempatnya lumayan besar dan terkesan klinik bagus meski tempatnya di
pemukiman padat khas
Jakarta
.
Setelah menyelesaikan
pendaftaran, aku menghabiskan waktu menunggu dengan membaca Tempo terbaru
yang kuculik dari rak koran Walhi. Enaknya setiap pagi, di rak koran
Walhi tersedia hampir semua merek koran “kelas menengah ke-atas”. Kompas,
Media Indonesia, Republika, Koran Tempo, Bisnis Indonesia, dan The
Jakarta Post. Dan setiap sore, Suara Pembaruan. Dijamin ngga
ketinggalan info!!
Biasanya setiap hari senin, Tempo
terbaru di Walhi langsung raib tak pernah terlihat di rak koran. Mungkin karena
langganan majalahnya cuma satu, terbit seminggu sekali dan yang baca berebutan.
Makanya beruntunglah aku pagi itu, Tempo baru terhidang hangat fresh
from the oven, bisa kuculik menemaniku ke dokter gigi.
Agak lama menunggu, sampai
hampir habis Tempo kubaca, tanpa melupakan Catatan Pinggirnya Goenawan
Mohamad. Di edisi minggu ini dia menulis tentang Najib Mahfudz. Seorang
satrawan Mesir penerima nobel yang wafat minggu lalu. Innalillahi..
Masih terus menunggu, kutanya
pada resepsionis. Menurutnya, dokter sedang menerima pasien. Kira-kira
lima
belas menit,
kemudian aku dipanggil masuk ruang rawat.
Sapaannya hangat,
menenangkanku. Drg. Indriyani, kutahu kemudian namanya dari resep yang
ditandatanganinya. Perempuan berjilbab itu bertanya apa keluhanku, dan
menjelaskan kemungkinan penyakitnya. “oke, biar jelas silakan duduk!!” katanya
sambil menunjuk ke kursi pesakitan.
Rasanya nyaman duduk di kursi
pesakitan. Santai, kursi ini memang didesain untuk senyaman mungkin. Di atas
wajahku terdapat senter yang akan menyorot ke dalam mulut, di samping terdapat
wastafel mini dan gelas untuk kumur-kumur. Kayaknya kursi ini modal mutlak
seorang dokter gigi, seperti kursi listrik yang jadi modal mutlak seorang
algojo.
Setelah semua peralatan siap,
lampu neon di depan mukaku dinyalakan, dan aku diminta buka mulut. Menurut keterangan
Bu Dokter, tambalan gigiku yang dulu sudah bocor dan perlu ditambal lagi. Semua
tambalan terdahulu dibongkar dengan bor dan pencukil.
Kurasakan alat bor sedang
merapikan lubang digigiku. Rasa ngilu yang mengalir disyaraf kepalaku bercampur
tegang dipompa denyut jantungku. Namun perasaan tegang itu perlahan sirna,
ketika kulihat mata Bu Dokter yang terlihat tenang menyembul di antara masker
yang menutupi separuh mukanya. Sorot mata yang tenang itu menghapus rasa
khawatirku hingga selesai proses penambalan. Sesudah selesai menambal lubang gigiku,
Bu dokter memberi tahu apa saja yang menjadi penyakit di gigiku dengan
menggunakan gambar anatomi mulut manusia.
Satu masalah selesai, masalah
selanjutnya sudah menantiku. Tagihan yang harus kubayar sebesar Rp 225. 000.
sungguh jumlah yang fantastis untuk menambal sebuah gigi yang bolong, dan kini
giliran kantongku yang jadi bolong!!! Anjriittttt!!!
